Diabaikannya KAPASITAS LAYANAN
apa yang terjadi di BREXIT saat jatuhnya belasan korban mudikers kemarin adalah adanya pengabaian dari awal bahwa setiap fasilitas layanan mempunyai nilai daya tampung maksimal yang diperbolehkan.
Saat daya tampung sudah melebihi kapasitas maka banyak opsi yang harus disiapkan, dan sebenarnya pengelola jalan tol sudah punya pengalaman soal hal ini dari tahun ke tahun.
Antisipasi yang dilakukan yang terdahulu saat daya tampung sudah maksimal dilakukan di tiga titik: titik masuk, di dalam tol dan di pintu keluar.
Di titik masuk, tahun lalu dilakukan penutupan jalan dan memberi opsi jalan alternatif yang bisa dilalui, untuk antisipasi adanya penerobosan dilakukan penjagaan oleh aparat kepolisian.
Saya sendiri mengalami bagaimana saat akan masuk tol ke arah bekasi dari arah lebak bulus di stop polisi dan di berikan pengertian ttg kondisi jalan tol yang sudah stag tidak bergerak, lalu diarakan untuk memutar terlebih dahulu ke cawang.
Jika di BREXIT sudah stag kenapa hal ino tidak dilakukan di titik palimanan sehingga masih ada kesempatan pengendara untuk keluar tol palimanan dan pejagan dan lanjut via jalur biasa.
Di titik keluar pernah dilakukan free biaya tol untuk mempercepat proses keluarnya mobil dari jalan tol.
Sampai terurainya secara alami antrian di brexit dan memakan korban nyawa free biaya tol tidak dilakukan, justru media banyak memunculkan berita tentang prilaku mudikers yang buang sampah sembarang dan tidak disiplin selama di ruas tol tersebut.
Disisi lain kontra flow tidak dilakukan , padahal kondisi jalan arah jakarta lenggang.
Untuk meningkatkan kedisiplinan pengendara di jalan tol dihadirkan aparat untuk memantau pengendara yang zig zag dan membantu secara cepat jika ada kendaraan yang bermasalah.
Gagal PAHAM dengan segudang pengalaman mengelola jalan dalam kondisi diatas daya tampung masih terjadi masalah ini.
Komentar
Posting Komentar